[Ulasan] A Muse (2012) – Korean Movie (18+)

Mau nonton film apa untuk menemani akhir pekan ini?

A Muse! Cocok untuk ditonton malam hari, secara kan hawanya lagi dingin dan syahdu gitu.

https://en.wikipedia.org/wiki/A_Muse

Judul : A Muse

Sutradara : Jung Ji-woo

Berdasarkan Novel Eun-gyo karya Park Bum-shin

Oleh : Lotte Entertainment

Rilis : 26 April 2012

Durasi : 129 menit

 

 

Pemeran :

  1. Park Hae-il sebagai Lee Jeok-yo
  2. Kim Mu-yeol sebagai Seo Ji-Woo
  3. Kim Go-eun sebagai Han Eun-gyo

Hai, Sev di sini…

Saya akan membahas film Korea lama kali ini, judulnya A Muse yang rilis pada tahun 2012 dan perlu diingat bahwa film ini mengandung adegan dewasa. Ga’ banyak hanya tiga scene. Oke, mari awali dengan salah satu pemerannya yang sedikit membuat saya syok. Adalah Kim Go-eun.

https://www.thefamouspeople.com/profiles/kim-go-eun-33861.php

TENTANG CAST

Siapa Kim Go-eun? Mari saya bantu mengingat, dia pemeran utama wanita dalam drama Cheese in The Trap (tvN, 2016) dan Guardian : The Lonely and Great God / Goblin (tvN, 2016). Inget dong sama dia, yang matanya sipit itu. A Muse merupakan film pertamanya sekaligus film debutnya sebagai aktris. Dan A Muse adalah film-nya yang keempat yang saya tonton, jadi total sampai 2018 ini dia membintangi 8 film. Nah, film terbarunya Sunset in My Hometown baru rilis 4 Juli 2018 kemarin.

Saya jadi punya pikiran nih, apakah aktris terkenal harus memulai debutnya dengan film dewasa? Contohnya Song Ji-hyo. Who knows-lah yaa.hehe. Anyway, terlepas dari Kim Go-eun memulai karirnya dengan membintangi film dewasa, berita baiknya adalah lewat A Muse, dia meraih banyak penghargaan sebagai aktris pendatang baru, dan film A Muse sendiri juga meraih banyak penghargaan dan banyak masuk nominasi. Jadi ga’ sabar kan pengen tahu alurnya?

ALUR CERITA

Tersebutlah (eeakk macam dongeng) Lee Jeok-yo seorang dosen sekaligus sastrawan senior yang dihormati. Lalu ada Seo Ji-woo, dulu mahasiswanya dan sekarang sedang merintis karir sebagai penulis novel. Novelnya laris manis. Seo Ji-woo ini sangat dekat dengan Lee Jeok-yo, bahkan dia punya kunci pintu gerbang rumah Jeok-yo, terus sering datang juga untuk sekedar membuatkan makanan Jeok-yo. Pokoknya dia ini merasa paling mengerti dan memahami Jeok-yo. Lalu apa yang dia cari? Adalah pengakuan dari sang sastrawan. Pengakuan bahwa dirinya layak menjadi penulis hebat.

http://myasiantv.se/movie/a-muse/

Oke, jadi Jeok-yo ini usianya 70an tahun gitu, kalau Ji-woo mungkin awal 30 kali ya, lalu Eun-gyo merupakan gadis SMA usia 17an gitu.

 

 

 

 

https://www.ahnsamo.kr/lifestory/50682

Ada scene yang menampilkan seberapa kesepiannya si Kakek Jeok-yo, berlanjut ke scene dia melepas pakaiannya, sampai ke kolornya dan sedikit berhenti ketika dia memandang kelaminnya (sudah ciri-ciri film erotis kan ya?). Lalu dia telanjang bulat di depan cermin.

Bagaimana awal perjumpaan dua lelaki tadi dengan Eun-gyo? Si Eun-gyo lagi tidur siang di kursi malas milik Jeok-yo yang terletak di halaman rumahnya. Scene pun menampilkan pandangan mata Jeok-yo yang menyasar ke kaki, paha, dan leher Eun-gyo. Jadi, sudah membuat penonton berimajinasi yang enggak-enggak. Contohnya saya, jadi mikir “gilak ini ntar bercinta sama kakek-kakek?”.haha.

Singkat cerita, Eun-gyo jadi pembantu di rumah Jeok-yo. Dia pakai seragam SMA gitu pas bebersih. Nah, pas membersihkan jendela baju seragamnya ikut naik, dan pinggangnya terlihat, aahh si Kakek tentu aja mengamatinya. Pikiran liar penonton kembali dimainkan ketika Eun-gyo malam-malam, plus hujan, plus pakai seragam sekolah, plus basah, datang ke rumah Jeok-yo. Ini komplit sekali bukan? Jeok-yo yang mulai ga’ waras dengan kehadiran gadis belia di rumahnya sebagai pembantu, malah mendapat ujian di malam yang hujan gadis itu datang dengan seragam basah kuyup. Dan, tentu saja siluet bra nya jadi terlihat akibat basah.

Menggiring penonton untuk berpikir nakal pun tak berhenti sampai situ, scene berlanjut dengan bececernya baju basah Eun-gyo di lantai, kamera secara perlahan mengambil adegan itu yang membuat saya jadi mikir (MIKKIRR).

Ujung dari gerakan kamera adalah scene Eun-gyo lagi mengenakan baju, yang terlihat dia dari belakang hanya mengenakan celana dalam dan bra. Si Kakek berdiri di luar kamar, sepertinya cemas.haha.

Pikiran penonton kembali dipermainkan ketika adegan Eun-gyo lagi tiduran di kamar, dan si Kakek mengeringkan seragamnya pakai hairdryer di depan wastafel yang nyambung sama kamar tempat Eun-gyo tiduran. Dia bercerita ke si Kakek, ceritanya sih ga’ penting-penting amat ga’ bakal bikin penonton berpikir yang tidak-tidak. Hanya posisi rebahananya si Eun-gyo yang bikin si Kakek gagal fokus. Gelisahhh aku gelisah, huwoo wooo woooo …

Rebahannya gini amat Mbak

Tak berhenti disitu, hasrat si Kakek kembali dipermainkan ketika scene bangun tidur, Eun-gyo semalam tidur di sofa ternyata nyusulin Kakek tidur di ranjang (heran aja sih, rumah segede itu masa kamar tidurnya cuma satu, eellaahh). Pas Kakek buka selimut, Eun-gyo lagi tidur dengan pulas, eh terlihatlah bagian dada Eun-gyo dari celah leher kaosnya. Waaahhh..

Masih mempermainkan hasrat si Kakek, penonton digiring ke adegan dimana Eun-gyo membuatkan tato hena di dada Kakek. Kakek diminta buat rebahan di pangkuan Eun-gyo, dan dia pun mulai melukis hena. Dengan kenyamanan itu, lama-lama si Kakek terlelap dan bermimpi Eun-gyo lagi bersihin kaca cuma pake kaos dan celana dalam. Terus si Kakek meraba dari tumit Eun-gyo, naik, naik dan….si Kakek jadi muda kembali. Iya, terpampanglah wajah Jeok-yo muda. Adegan berikutnya kejar-kejaran. Nah setelah itu, sex scene pun ditampilkan (masih dalam mimpi dan imajinasi Kakek). Lewat mimpi dan imajinasinya itu lahirlah sebuah cerpen berjudul Eun-gyo yang disimpan rapat-rapat oleh Kakek.

Back to Ji-woo, dia nih ga’ suka dengan kedekatan Eun-gyo dan Kakek, baginya yang boleh dekat dengan Kakek ya cuma Ji-woo doang. Dia jadi agak posesif gitu sama Jeok-yo. Maka dia mengundang Eun-gyo ke apartemennya dengan dalih suruh bawain obat flu. Sampai di kamar Ji-woo, Eun-gyo langsung dikasarin dan dimarahi yang membuat peniti di name tag siswa Eun-gyo nusuk ke dada. Berdarah deh. Ji-woo mulai ga’ tega dan ngasih tisu, waktu Eun-gyo membersih darah di dadanya, Ji-woo ngelihat gambar burung (tato hena). Adegan melunak ketika Eun-gyo menceritakan bagaimana si Kakek bercerita padanya tentang pertemuan dengan Ji-woo. Entah otak saya yang sudah teracuni pikiran kotor (haha) cara Eun-gyo duduk seolah menggoda Ji-woo. Kalau memang tujuan sutradara menggiring penonton untuk berpikir “jangan-jangan bercinta sama Ji-woo nih”, hal ini berhasil di saya. Hahahaha.

 

Otak gue ini!

Sesungguhnya film ini memiliki kekuatan cerita yang tragis, letupan asmara Lee Jeok-yo (70th) kepada Han Eun-gyo (17th) tidak bisa dia sampaikan secara leluasa. Imajinasi liarnya hanya mampu dia tuangkan dalam cerpen berjudul Eun-gyo, yang kemudian ditemukan oleh Seo Ji-woo dan mempublikasikannya di majalah sastra sampai meraih Pemenang Anugrah Sastra tahun itu. Jeok-yo tentu marah besar, dia juga tidak membukakan pintu untuk Eun-gyo karena malu. Yes, malu karena waktu Jeok-yo memarahi Ji-woo, tanpa disadarinya Eun-gyo melihat mereka. Eun-gyo pun menemukan majalah sastra itu dan membaca cerpen berjudul seperti namanya. Dia datang ke apartemen Ji-woo, kemudian scene berpindah ke mobil yang terparkir  dan di dalamnya ada Ji-woo dan Eun-gyo. Eun-gyo mengucapkan terima kasih pada Ji-woo karena telah menggambarkan betapa cantiknya dia di dalam cerpen itu. Ehh, berkat “situasi yang mendukung” Ji-woo pun nyosor nyium Eun-gyo sampai ke leher dan dadanya. Udah, gitu doang kok. Hhahaa. Nganuuuu, nanggung sodara.

Jadi, siapa yang beruntung bercinta dengan Eun-gyo??

Jawabannya ada mulai dari menit ke :

01:42:43

KESAN NONTON A MUSE

  1. Cerita yang menarik, pria tua yang jatuh cinta pada gadis remaja dibumbui dengan latar belakang dunia sastra.
  2. Pengkhianatan murid kepada gurunya, kental banget dan bikin kesal.haha.
  3. Rasa kesepian yang dialami tiga tokoh utama, jadi seolah para tokoh itu sedang mencari pelengkap dari bagian yang kosong dalam diri mereka. Eun-gyo yang merasa kosong dari sosok seorang Ibu menemukannya pada Jeok-yo. Ji-woo merasa kosong karena tokoh yang diseganinya (Jeok-yo) belum mengakui dirinya. Sedangkan Jeok-yo merasa kesepian tanpa pendamping dan tak terpenuhinya hasrat seksual.
  4. Ceritanya padat dan tidak bertele-tele, jadi alurnya ga’ lambat. Juga, ga’ ada adegan yang sia-sia, semua terhubung dan saling menjelaskan.
  5. Mengesankan karena mampu menggiring penonton untuk hanyut dalam pikiran “tidak-tidak” seorang Lee Jeok-yo walaupun apa yang ada dipikirannya tidak divisualisasikan, hanya lewat ekspresi saja. Jadi, akting Park Hae-il sukses dong.
  6. Akhir cerita yang begitu doang. Haha. Saya berharap lebih.
  7. Ga’ ada twist di akhir film, semua jelas dan apa adanya.

Itu aja ulasan A Muse dari saya, semoga bisa menjadi referensi film yang akan kamu tonton akhir pekan ini, dan doakan saya makin rajin bikin postingan tentang film.

Oh iya, barangkali kamu ingin mendownload film A Muse kamu bisa langsung menuju ke channel telegram saya : moviedrama25. Untuk yang belum paham bagaimana cara mendownload film melalui telegram, ikuti link ini.

Sampai jumpa di film selanjutnya.

Salam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s