Cerita Horor di Perpustakaan

The Library

Aku ingin membagi cerita yang selama ini ku simpan rapat. Aku merupakan seorang pustakawan yang telah empat tahun bekerja di sebuah perpustakaan fakultas di salah satu perguruan tinggi negeri. Pada dasarnya perpustakaan ini tak pernah sepi, selalu ada pengunjung mulai dari buka pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 16.00 WIB. Dapat dikatakan perpustakaan fakultas ini yang paling ramai daripada fakultas lain, tak ada kesan seram sama sekali yang ada hanyalah kenyamanan dan ketenangan. Rak dan furniture terbilang baru, sirkulasi cahaya sangat baik, perangkat komputer yang disediakan pun jauh dari kesan kuno, WIFI? Jangan ditanya, kelancarannya bisa digunakan untuk mengunduh seri televisi episode penuh.

Semester ganjil tahun 2016 diberlakukan sistem piket untuk unit-unit pelayanan, termasuk perpustakaan. Terdapat empat petugas di perpustakaan ini, tiga orang menyanggupi untuk piket, aku salah satunya. Aku mendapat giliran piket di hari Selasa dan Kamis, jam buka ditambah satu jam yang artinya petugas baru boleh meninggalkan perpustakaan selepas jam 17.00 WIB.

Sebelum masuk ke inti cerita, biar ku jelaskan lokasi perpustakaan fakultas ini. Jika dilihat dari atas, gedung fakultas membentuk huruf P. Ruangan perpustakaan terletak di lantai dua, pojok selatan bersebelahan dengan kamar mandi, tak ada ruangan lain di depannya, perpustakaan ini benar-benar terletak di sudut. Karena tak ada ruangan lain disekitar perpustakaan maka dapat dipastikan lalu lintas mahasiswa tidak padat, hanya dilalui mereka-mereka yang tidak bisa menahan hajat untuk membuang air kecil atau besar.

Jam perkuliahan di kampus ini selesai pukul 17.30 WIB, tentu saja siapa yang hendak pergi ke perpustakaan sore-sore? Memang masih ada beberapa, tapi tak sebanyak pagi dan siang hari, barangkali beberapa dari mereka tidak tahu kalau perpustakaan buka sampai sore atau mungkin mereka lebih memilih mendekam di kos dan kongkow di kafe-kafe murah yang kian menjamur.

Karena minggu depan sudah masuk ke minggu tenang sebelum UAS, mahasiswa yang hadir ke kampus tidak terlalu banyak. Begitupun yang mengunjungi perpustakaan, jika beruntung masih ada beberapa mahasiswa yang bertahan mengerjakan skripsi hingga satu jam piket berlalu, jika tidak petugas piket akan bertahan seorang diri. Suasana selalu sepi, hanya terkadang satu dua mahasiswa lewat untuk ke kamar mandi, mereka toh tidak peduli di dalam perpustakaan masih ada orang atau tidak, karena pintu masuk selalu tertutup rapat. Lagi pula jika aku menjadi mereka, aku tak akan iseng melongok-longok mencari tahu apakah masih ada orang di ruangan ini. Sepertinya itu terlalu mengerikan jika aku mendapati ada orang di dalamnya padahal sesesungguhnya tidak.

Seperti sebelumnya, hari Kamis ini aku piket. Langit sedikit muram di luar sana, musim penghujan sudah datang, mendung berarak – arak menyelimuti langit Sleman. Tak secerah hari kemarin, sore ini lebih gelap dari biasanya, lampu penerang ruangan terlihat lebih bersinar. Aku duduk di meja depan, bagian sirkulasi. Tas dan perlengkapan masih ada di ruang petugas, lampu ruangan itu masih menyala dan komputer yang biasa ku gunakan juga belum dimatikan. Aku melirik lemari kayu berpartisi, tempat untuk meletakkan tas pengunjung. Sudah tak ada tas, yang artinya sudah tak ada pengunjung. Aku bangkit, menuju ke jendela untuk menutup tirai, langit benar-benar gelap, di ujung barat sana tampak sesekali kilat.

Pada beberapa meja baca, aku menemukan buku-buku yang selesai di baca, buku itu kemudian ku masukkan ke dalam rak. Langit yang mendung, tirai jendela yang sudah tertutup, membuat selasar rak lebih gelap. Aku berpindah dari rak satu ke lainnya, sambil mengecek adakah tatanan buku yang tidak rapi, atau buku yang belum bergabung ke dalam koloni. Langkahku terhenti di rak dengan kode klasifikasi 37–rak yang paling minim cahaya.

“Saya pikir sudah nggak ada mahasiswa lho” ujarku ketika mendapati seorang mahasiswa perempuan tengah duduk di lantai sambil menopang buku.

Dia mendongak.

“Hehehe, iya Mbak” katanya sambil tersenyum malu.

“Kalau butuh bantuan, saya di depan ya” kataku, dia mengangguk. Aku kembali berjalan menuju rak 159, masih dengan mendekap beberapa buku yang belum masuk ke dalam rumahnya.

Selang lima belas menit sebelum pukul 17.00 WIB, mahasiswa tadi menghampiriku ke meja sirkulasi.

“Kalau mau pinjam harus daftar dulu?” dia bertanya.

“Iya, dari fakultas sini atau luar?”

“Luar”

“Oke sebentar, saya matikan komputer dulu. Nanti daftarnya di sana ya” aku menunjuk loket administrasi yang terletak di ruang petugas. Komputer di meja sirkulasi sudah mati, aku berjalan menuju ruang petugas di ikuti oleh mahasiswa itu.

“Silahkan duduk, saya pinjam kartu mahasiswanya” kataku, antara aku dan dia terpisahkan partisi kaca dengan kotak berlubang tetap di depan wajah ketika petugas duduk di kursi. Dia menyodorkan kartu mahasiswa yang telah usang, angkatan 2010.

“Harus segera lulus ini” komentarku, dia sedikit tertawa. Tawanya pelan dan nyaring. Aku sedikit bergidik, ku dengar di luar sana hujan mulai turun.

Aku mengarahkan kursor, membuka browser untuk mengetikkan alamat login aplikasi SLiMS 7, kemudian menambahkan data keanggotaan dengan memasukkan nomor induk mahasiswa, nama, tanggal registrasi, tanggal berakhir, program studi. Kemudian aku menanyakan alamat tinggalnya, nomor handphone, alamat email, lalu mengetikkan sandi untuk login member area. Selanjutnya yang paling sungkan dilakukan adalah mengambil foto dari calon anggota perpustakaan.

“Berlian” panggilku, matanya menatapku tajam. “Harus foto dulu, silahkan bersiap” kataku, aku menekan tombol load camera disusul tombol allow, kemudian kamera berproses sejenak sebelum akhirnya menampilkan citra dihadapannya. Dia duduk di depanku, kamera tepat berada di depannya, aku memperhatikan citra gambar di layar komputer yang ditangkap kamera. Jari jemariku mendadak berhenti, aku menelan ludah, suhu dingin mulai kurasakan menjulur disekujur tubuhku.

“Siap ya” kataku “Satu, dua, tiga” aku menghitung sambil memegang web cam agar tidak goyah, senyumnya tersungging ketika aku memperhatikan wajahnya. Mataku melihatnya secara langsung. “Sudah” kataku, sama sekali tak ingin ku lihat hasil jepretan web cam.

Kursor ku gerakkan menuju menu Sirkulasi, untuk memproses peminjaman, aku mengetikkan nomor induk mahasiswa, menekan enter kemudian memproses peminjaman, sama sekali tak ku perhatikan foto yang terpampang di sudut kanan atas.

“Sudah” suaraku bergetar sambil menyodorkan buku Pendidikan Karakter yang dia pinjam.

“Bentar ya Mbak, aku ke kamar mandi, masih ada beberapa yang mau aku pinjam” sambil membawa buku yang baru saja selesai diproses dia berlalu menuju kamar mandi yang terletak disebelah perpustakaan. Aku beranjak meraih tas dan kunci ruangan, kemudian melangkahkan kaki secepat mungkin menuju pintu. Menutupnya perlahan, mengunci, menggembok. Kemudian berjalan cepat menuju tempat parkir di lantai satu, aku tak peduli jika dia ingin meminjam buku lagi, jam piketku sudah berakhir.

***

Esoknya…

“Kok tumben baru datang?” tanya Mbak Ana ketika melihatku masuk, aku diam. “Oh ya Sev, tadi Pak Slamet nanya siapa yang piket kemarin kok lampu perpustakaan nggak dimatiin, aku bilang aja mungkin kamu lupa”

“Emmm” balasku enggan.

“Komputermu juga gak kamu matiin ya kemarin?”

“Iya” jawabku pelan.

“Terus tadi pas aku baru nyampe, ada mahasiswa balikin buku. Katanya kemarin sore pinjemnya sama kamu. Dari Fakultas Ilmu Sosial kalau gak salah”

Deg!

“Ini bukunya” Mbak Ana mengangkat buku Pendidikan Karakter. “Tapi aku heran..”

“Kenapa?” potongku.

Web cam rusak apa kamu motretnya gak bener sih? Kok fotonya kursi kosong gitu” lanjut Mbak Ana, dia menatapku penuh dengan pertanyaan.

Badanku lemas. Aku ingat dan sadar betul, dengan kedua mataku aku melihatnya, tapi dia tak muncul di layar ketika aku mengarahkan kamera dengan posisi ON ke arahnya. Dia tak terlihat.

“Trus dia tanya kapan kamu piket lagi, katanya mau pinjem pas kamu yang piket” Mbak Ana berlalu menuju kamar mandi.

Ya. Aku masih ingat tawanya.

Nada tawa yang selama ini orang bicarakan, tawa yang ku yakini hanya sebuah mitos.

 

Yogyakarta, 20 April 2017

Sepfriend Kelana.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s