Ibu

Ibu,Ibu,dan Ibu

Rosul-ku menyebutnya tiga kali untuk tingkatan siapa orang yang harus dihormati,baru kemudian Ia menyebut Ayah.

Ini tentang Ibu ku,sosok paling lembut yang pernah hadir dalam hidupku,yang membukakan mata dunia bahwa diriku ada,setelah sembilan bulan aku tertidur dalam rahimnya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia tidak menjaga ku dengan baik, mungkin blog kecil ini pun tak pernah ada.

Dia cantik,wanita tercantik yang pernah aku temui,bentuk wajahnya berbentuk oval,dengan alis yang tak tebal,mata yang kecil,jika ia tersenyum,hanya tersisa garis tipis,hidung yang tak mancung,bibir kecil berwarna pink,pipi yang bulat,dagu yang pendek,dan berambut gelombang.

Ibu-ku wanita lembut dan santun,tak pernah terucap kata kasar dari mulutnya,wanita terdidik dengan bahasa yang indah dan lembut,setiap kata yang keluar dari mulutnya dipilah dengan baik,sehingga aku hanya mendengar kata-kata yang baik. Dia yang mengajarkanku menggunakan bahasa Jawa yang baik, jadi terkadang pun aku masih susah mengerti dengan istilah Jawa yang kasar.Bukan kesalahan Ibu-ku,tapi Ibu-ku yang ingin anaknya hanya mendengar kata-kata yang baik.

Ibu-ku dan Ayah-ku tak pernah membentak,tak pernah memaki,mereka pribadi-pribadi lembut,jadi aku selalu sulit menerima orang yang membentakku dengan kasar. Seingatku,mereka berdua memarahi ku karena dua hal klise,mandi dan makan.

Ibu-ku adalah penulis cerpen dan penulis sajak,hal yang paling dia geluti adalah sajak,waktu aku kecil aku sering membaca kumpulan sajaknya,tapi aku tak pernah memahami isi dari sajak yang ia tulis,dalam buku bersampul merah itu,tertulis rapi sajak karyanya dengan dihiasi lukisan-lukisan sederhana,dengan jenis huruf yang beraneka ragam,mengalahkan jenis-jenis huruf di Microsoft Word,waktu itu yang aku tahu,lukisannya indah.

Aku masih terlalu kecil untuk memahami bahwa itu sebuah karya,aku mencoret-coret seenaknya buku itu,mewarnai lukisannya yang hanya diarsir pensil,tapi Ibu-ku tak pernah sedikitpun marah,entahlah,aku juga tidak tahu kenapa ia tak marah.

Waktu kecil,aku pernah mengatakan padanya aku ingin menjadi penulis dongeng,saat itu ia hanya tersenyum dan mengatakan,menulis dongeng tak semudah itu,kamu harus belajar lebih banyak lagi.Aku mengangguk,iya waktu itu aku masih kelas 2 sekolah dasar.

Sekarang,usia ku 22 tahun,dan aku masih tak mengerti mengapa menulis menjadi dunia ku,atau kah benar darah itu begitu kental,atau kah benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya?Aku hanya ingin meneruskan apa yang sudah ia mulai dari dulu,walau bukan sajak yang menjadi jantungku,setidaknya lewat bahasalah kami bersatu dalam rindu.

Ibu..

Terima kasih untuk semua pelajaran singkat ini,terima kasih untuk semua kenangan hebat,untuk semua karya mu yang ingin kembali ku temukan,terima kasih membuat ku menjadi tangguh,terima kasih telah menjadi inspirasi terbesarku..

Aku mencintaimu..

Merindukanmu..

——air mata ku jatuh diiringi lagu sendu Agnes Monica-Rapuh——

Yogyakarta, 26 Januari 2013

Sepfriend Kelana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s