Librarian

Kali ini aku ngga’ akan membuat cerpen atau semacam prosa, tapi mau membicarakan sedikit tentang profesi ku saat ini. Oke, aku seorang staf perpustakaan, kenapa aku bilang staf karena aku masih tenaga kontrak, walaupun basic ilmu ku memang ilmu perpustakaan. Aku akan disebut sebagai seorang pustakawan, apabila kelak sudah diangkat sebagai pegawai negeri sipil.

Aku bekerja di perpustakaan fakultas di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, aku lulus pada September 2011, dan melamar pekerjaan ini pada Februari 2012, dan diangkat sebagai karyawan kontrak pada bulan Maret 2012, hingga saat ini sudah hampir 10 bulan aku bekerja di Jogjakarta.

Nah, kenapa aku tiba-tiba ngepost soal profesi ku saat ini, ini dilatar belakangi oleh pendapat yang sering ku dengar tentang pustakawan, banyak dari mereka yang mengatakan pekerjaan ini tidak lebih hanya sabagai penjaga buku, penata rak buku, tukang bersih-bersih buku, dan orang yang tidak memiliki kesibukan, cuma baca koran sambil menunggu pengunjung perpustakaan.

Ini ngga’ sesimple itu!!

Perpustakaan adalah sebuah bangunan yang menyimpan dan memelihara bahan pustaka untuk digunakan kembali oleh pengunjung sebagai bahan informasi ataupun referensi dalam mencari atau mengambil keputusan. Jadi begini, perpustakaan itu tidak hanya menyimpan tapi juga memelihara, bahan pustaka yang dimaksud disini bukan hanya buku, tapi ada kaset, CD, DVD, mikro film, naskah kuno, skripsi, tesis, peta, dan masih banyak ragamnya. Kami, para pustakawan bertugas untuk menyimpan dan memelihara semua bahan pustaka tersebut agar mampu digunakan kembali di kemudian hari, bulan, bahkan tahun. Bayangin deh, bagaimana televisi-televisi itu memutar kejadian ditahun 2002, kalau tidak ada perpustakaan. Maka, semua itu bukan hanya disimpan tapi juga di pelihara agar suatu waktu dapat digunakan kembali. Mulia banget kan jadi pustakawan??

Nah, perpustakaan itu dimiliki oleh setiap instansi, seharusnya lho yaa, tapi kebanyakan masih belum memahami dengan baik fungsi dari perpustakaan itu. Sekarang aku bicarain soal perpustakaan di perguruan tinggi aja deh, perpustakaan pusat, biasanya jauh lebih besar dan komplit dari perpustakaan fakultas, kenapa begitu, karena bahan pustaka yang ditampung disana merupakan kumpulan bahan pustaka yang mencakup seluruh program studi di perguruan tinggi tersebut. Sedangkan perpustakaan fakultas hanya menyediakan bahan pustaka sesuai dengan program studi yang ada di fakultas itu. Jadi, udah paham bedanya kan antara perpustakaan pusat universitas dan perpustakaan fakultas?

Nah, pustakawan itu kerjanya bukan hanya bersih-bersih rak buku, nata buku atau baca koran. Kami ini bertugas menyiapkan bahan pustaka, buku dll tadi untuk siap dilayankan kepada pengguna perpustakaan. Langkah pertama adalah pengadaan bahan pustaka, bahasa sederhananya beli buku. Setelah buku dibeli, kami mengecek kesesuaian judul dengan jumlah eksemplar pesanan. Setelah semua tercek nih, baru deh dilakukan pengolahan buku.

Pengolahan buku itu yang pertama adalah membuka plastik pembungkusnya, ya iyalah kalau ga’ dibuka ga’ bisa diolah. Setelah itu kami mencatatnya di buku inventaris kepemilikan atau istilah perpustakaannya nih adalah buku induk. Buku induk itu memiliki kode khusus sebagai nomor inventaris, setiap buku memiliki nomor yang berbeda-beda.

Setelah dicatat di buku induk, buku harus di cap, cap-nya biasanya menunjukkan kepemilikan buku, misal “Milik Perpustakaan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Bla Bla Bla”. Pengecapan pun ga’ sembarangan lho, karena ga’ semua halaman buku di cap, biasanya halaman-halaman yang dicap merupakan sandi khusus perpustakaan. Contoh nih, halaman yang di cap antara lain halaman 1, 12, dan 69 bisa saja berarti perpustakaan itu berdiri pada 1 Desember 1969. Dan masih banyak sandi-sandi lain yang hanya diketahui oleh pustakawan. Apa sih fungsi dari kode pengecapan ini? Fungsinya itu apabila buku ini hilang, misalkan semua tanda kepemilikan dihilangkan, maka pustakawan dapat mengetahui apakah buku ini benar miliknya dengan melihat kode halaman pengecapan.

Setelah dicap, baru ditentukan nomor klasifikasinya. Ini yang akan menentukan buku itu akan diletakkan di rak mana. Pernah masuk perpustakaan, dan mendapati rak dengan nomor-nomor ratusan yang sama sekali ngga’ kalian pahami itu apa? Itu adalah nomor klasifikasi yang menentukan letak buku sesuai subjek yang dimilikinya, misalnya yang paling gampang nih buku tentang sastra, novel dan rekan-rekannya bakal terletak di rak dengan nomor 800,ini sesuai dengan kitab suci perpustakaan yakni DDC (Dewey Decimal Classification), sedangkan untuk UDC (Universal Decimal Classification) terletak di rak dengan nomor 82. Kitab suci yang paling umum dipakai adalah DDC, tapi ada beberapa perpustakaan yang menerapkan UDC. Selain itu, ada pula klasifikasi yang khusus diterapkan di Cina, ada pula klasifikasi khusus yang diterapkan di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, mereka tidak menggunakan DDC ataupun UDC, lebih simple karena hanya menerapkan penggunaan abjad.

Setelah di klasifikasi, buku harus diberi kelengkapan, seperti lembaran tanggal kembali atau istilah perpustakaannya due date, jadi peminjam tahu kapan sih buku ini mesti dikembalikan, biar ngga’ kena denda. Buku perlu ditempeli label di punggung buku, jadi kalau kalian liat di punggung buku tuh, ada label angka dan huruf, itu yang dinamakan call number atau nomor panggil, nomor panggil itu diambil dari nomor klasifikasi buku. Label ini memudahkan pustakawan ataupun pengguna untuk menemukan buku yang dia inginkan. Selain itu ditempelin pula barcode, tahu kan yang berupa deretan angka-angka dan garis-garis itu, biasanya barcode berdasarkan dari nomor inventaris, karena setiap buku memiliki nomor inventaris yang berbeda-beda. Dan satu hal lagi jangan sampai terlewatkan, buku wajib diberi sampul mika lentur, biar tetap awet cover aslinya.

Selanjutnya setelah rapi dengan sampul, buku langsung di entry ke database. Ini bagi perpustakaan yang sudah menggunakan sistem automasi, atau bahasa sederhananya peminjaman,pengembalian,penelusuran menggunakan bantuan komputer. Software-software automasi tuh banyak banget, ada winisis ada pula SLiMS (Senayan Library Management System)ini software bikinan anak negeri lho. Keren kan??? Data yang dimasukkan ke dalam sistem komputer meliputi judul,nama pengarang,penerbit,tahun terbit,kota terbit,jumlah halaman,panjang lebarnya buku,nomor klasifikasi,bahasa yang digunakan, subjek buku, abstrak, cover, jumlah eksemplar berikut nomor barcodenya. Fungsi dari nomor barcode adalah saat dilakukan transaksi peminjaman, pustakawan tinggal menscan barcode tersebut, kemudian data buku sudah tampil di window, sederhananya kaya’ kalau kita beli sabun di Alfamart.

Oke, setelah data masuk di komputer, barulah semua buku itu di masukkan ke dalam rak, di tata sesuai dengan nomor klasifikasinya, istilah perpustakaannya adalah shelving. Penataan ini awalnya dimasukkan ke rak nomor klas, setelah itu diurutkan lagi secara alfabetis, setelah alfabetis di urutkan lagi menggunakan kode eksemplarnya. Agak-agak menggunakan otak dan kejelian mata. Jadi yang dikatakan orang sebagai menata buku ternyata untuk seorang pustakawan ngga’ sesederhana apa yang orang pikirkan. Kami harus meletakkan buku sesuai dengan nomor klasifikasinya, setiap buku memiliki label yang berisi nomor klasifikasi, ini yang memudahkan pustakawan untuk menempatkan kembali buku ke rak-nya.

Lagi nih yang paling pakem, pengguna biasanya mencari buku dengan bantuan katalog, berhubung sekarang sudah era digital, katalog kartu sudah tidak dipakai lagi. Sekarang sudah menggunakan sistem OPAC (Online Public Access Catalog). Tinggal ketik judul atau nama pengarang atau bahkan subjek, jika buku yang dimaksud dimiliki oleh perpustakaan, data nya akan keluar dengan sendirinya, ini kenapa kami harus mengentry data buku sebelum dimasukkan ke dalam rak. Setelah komputer menampilkan data buku, pengguna tinggal mencatat sebuah nomor di pojok kiri atas. Biasanya ada deretan angka dan huruf, contohnya :

001.8

Ari

M

Tinggal aja nomor itu dicatat di kertas,nomor inilah yang dinamakan nomor panggil buku, selanjutnya silahkan meluncur ke rak 001.8, ingat yaa ditulis secara komplit. Aku sangat sering mendapati mahasiswa yang hanya menulis nomornya saja 001.8, seperti itu, padalah huruf dibawahnya itu juga menentukan, ingatkan kalau kami meletakkan buku secara alfabetis. Ini lho fungsinya harus ditulis secara komplit nomor panggilnya.

Jadi masih berpikir bahwa pustakawan adalah orang yang bekerja sebagai penata buku, bersih-bersih rak buku, atau orang yang ongkang-ongkang sambil baca koran?? Hemmm,buang deh jauh-jauh pikiran itu, kalau cuma pekerjaan seperti itu ngapain perlu didirikan program studi Ilmu Perpustakaan di perguruan tinggi? Kami juga memiliki ilmu pasti, dan ilmu pasti kami adalah klasifikasi yang berdasarkan kitab DDC ataupun UDC. So, kalau cuma nata buku dan bersih-bersih rak, ngangkat lulusan SMA pun bisa kan ya? Ga’ perlu harus yang berlatar belakang pendidikan Ilmu Perpustakaan.

Jadi intinya setiap profesi itu memiliki keistimewaan masing-masing, dan pustakawan pun memilikinya J

Cukup dulu ya informasi ku tentang dunia pustakawan, masih banyak hal lagi yang perlu diketahui,tapi lanjut lain waktu aja deh. Selamat berkunjung ke perpustakaan, Selamat Membaca J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s