Aku dan Wanita Ini

“Kenapa sih kamu suka ngerokok?” dia duduk di hadapanku sambil menatap menghakimiku, dengan alis mata yang hampir menyatu,matanya yang terlihat bulat hitam,fokus memandangi tangan kananku yang memegang sebatang rokok,yang asapnya tertiup angin kemana-mana. Ku ketukkan batang rokok itu di badan asbak,membuang abunya, kemudian ku hisap dalam, mataku sedikit terpejam sedikit,menikmati isapan. Menyemburnya pelan..

“Rokok itu banyak manfaatnya!” kataku sambil menatapnya tanpa berkedip,malam ini dia tengah cantik sekali, rambutnya yang panjang hitam,di taruh di bahu kanannya, sehingga bagian leher kirinya terlihat.

“Aku ngga’ percaya” nada setengah manja ku dengar keluar dari bibir tipis berbalut lipsgloss berwarna natural,terlihat berkilau diterpa lampu temaram cafe tempat kami bertemu.

“Kenapa kamu ngga’ suka perokok?” aku bertanya,kembali ku ketukkan batang rokok ke badan asbak,membuang abu, dia memandangi gerakku dengan matanya yang bulat besar berwarna hitam,yang aku kira saat pertama bertemu dengannya,dia tengah memakai softlens,ternyata itu mata asli.

“Sama kaya’ kalo kamu ngga’ suka aku pake baju tanpa lengan” jawabnya spontan,masih dengan nada sedikit manja,suaranya lembut,bagus,seperti suara anak-anak yang renyah. Dia tengah menggenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, dengan dua saku kecil di dadanya,kancing atas tidak dikaitkan,aku bisa melihat badannya yang putih.

“Hahaha,bukan,itu beda,jangan disamakan dong” aku tertawa, wajahnya cemberut mendengar aku berkata demikian, pipinya itu tak terlalu gemuk,pas sekali,dan sepertinya halus sekali.

“Emang apa manfaatnya ngerokok?” dia kembali bertanya dengan nada intimidasi penuh, aku hafal betul,dia tak pernah ingin kalah, aku tersenyum kecil sambil menatapnya lembut.

“Menenangkan kalau lagi kalut” kataku lembut, ku bunuh batang rokok yang hampir habis, aku ingin berkonsentrasi padanya “Memangnya ada manfaat pake baju tanpa lengan?” aku bertanya.

“Baju itu bagus,lagi trend sekarang,aku kelihatan cantik kalau memakainya” katanya dengan nada sedikit menyombongkan diri,kemudian tersenyum angkuh padaku,aku tahu dia tengah bercanda,iya aku tahu kamu cantik,tak perlu kamu tegaskan lagi.

“Akan banyak orang ngelihatin kamu kalau kamu pakai baju itu,mereka pasti punya pikiran jelek atau mungkin kotor”  balasku, aku menatapnya, wajahnya diterpa lampu temaram cafe, dia menyamankan posisi duduknya, aku paham betul,dia akan melakukan serangan balasan kalau sudah begini, dia sedikit menyondongkan badannya mendekat ke arahku.

“Bahkan kamu bisa kena penyakit jantung kalau kamu ngerokok terus” katanya setengah berbisik,masih dengan nada manja, aku tertawa melihat tingkah bocah ini,bersamanya selalu saja ada hal yang membuat ku ingin tertawa keras. Dia kembali merapatkan punggungnya di kursi, matanya melirikku seolah bertanya apa lagi.

“Belum tentu” jawabku,kali ini aku menaruh siku tanganku di atas meja,dan mataku menatapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Wanita ini tersenyum,aku bisa melihat lesung pipi di kedua pipinya, dia mengikuti langkahku,mendaratkan sikunya di atas meja, kemudian menatapku lekat, aku suka setiap kali dia seperti ini.

“Belum tentu juga mereka berpikir jelek dan kotor sama aku” katanya, aku mengernyitkan kening, kemudian dia tersenyum,yang terangkat hanya bibir kanannya,senyum liciknya “Kamu kan ngga’ bisa membaca pikiran mereka” lanjutnya.

Skak matt!

Dia memainkan gelas kecil berisi lilin di hadapannya,sambil tersenyum-senyum penuh kemenangan,cahaya lilin itu memantul ke dalam matanya, aku melihat matanya yang hitam bulat bersinar jingga,seperti senja paling indah yang pernah ku lihat.

“Kamu tahu ngga’ kenapa aku suka sama kamu?” aku berkata,dia berhenti melakukan aktivitas tadi, kepalanya mendongak,matanya menatapku,raut wajah bingung yang demikian ku suka terpasang nyata di hadapanku.

“Salah satunya karena kamu cerdas” lanjutku sambil tersenyum, aku melihat perubahan mimik wajahnya,mendadak wajahnya memerah,dan dia kemudian mengendur,merapatkan lagi punggungnya ke kursi,sepertinya aku menang,aku tersenyum kecil.

“Aku juga akan suka sama kamu kalau kamu tidak merokok,semakin kamu tidak merokok,aku akan semakin suka. Apalagi kalau kamu sampai berhenti, mungkin aku sudah mencintaimu…” katanya,dia berdiri dari kursi di hadapanku sambil tersenyum,kemudian membawa tas nya,dan berlalu dari meja ku, aku bisa melihat punggungnya yang kecil, rok bermotif bunga-bunga nya yang sepanjang lutut,dan tas hitam yang dipegangnya dengan tangan kiri,sepatu hak warna putih menuntunnya keluar dari cafe.

Gila,aku kalah lagi. Umpatku dalam hati, wanita ini benar-benar sulit untuk ku takhlukkan. Dia sangat tahu,aku tak mungkin berhenti merokok.

 

Jogja, 16 Februari 2013

Sepfriend Kelana

(kadang harus ada alasan yang cukup kuat untuk membuat seseorang berhenti merokok,jadilah alasan mereka)

2 thoughts on “Aku dan Wanita Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s